PERCAYA DIRI
23 Oktober 2008
, Posted by Rachmad Hakim at 15:10
Dalam kehidupan modern yang dinamis, kepercayaan diri menjadi hal yang semakin penting. Banyak sekali bidang profesional dan sosial yang membutuhkan kepercayaan diri, seperti: public speaking, hubungan romance, ujian pendidikan/kerja, wawancara, pesta, dll.
Telah banyak buku-buku pengembangan diri (self development) yang membahas khusus membahas topik ini. Untuk Mari kita tinjau beberapa definisi kepercayaan diri.
- belief in own abilities: self assurance or a belief in your ability to succeed
faith in somebody to do right: belief or trust in somebody or something, or in the ability of somebody or something to act in a proper, trustworthy, or reliable manner. (Microsoft Encarta 2009) - faith in oneslef (Babylon Pro)
- a state of being certain, either that a hypothesis or prediction is correct, or that a chosen course of action is the best or most effective given the circumstances (Wikipedia)
Tingkat kepercayaan diri setiap orang berbeda-beda dan berubah-ubah. Seorang profesor bisa jadi sangat percaya diri ketika mengadakan kuliah, namun bisa jadi menjadi tidak percaya diri ketika diundagg ke pesta atau menjadi pembicara di seminar nasional. Seorang analis software yang memimpin projek bisa jadi percaya diri ketika memberi pengarahan pada programer-programernya, namun menjadi tidak percaya diri ketika berhadapan dengan lawan jenis.
Kepercayaan diri bergantung pada persepsi kita tentang kemampuan diri untuk mampu berperan (role playing) sesuai harapan orang-orang di sekeliling kita.
Misalnya ketika kita harus berpidato dihadapan ribuan orang terpelajar, maka tentu ada harapan publik bahwa kita mampu memberikan materi dengan jelas, meyakinkan, dan menarik (tidak membosankan). Kalau bisa lucu malah. Harapan tersebut bisa tidak terpenuhi, misalnya kita lupa apa yang akan kita sampaikan, materinya meloncat-loncat, membosankan, atau bahkan kita sudah demam panggung, keringat dingin, jantung berdetak lebih kencang, dan akibatnya kita menjadi tampak bodoh. Munculnya keraguan diri untuk dapat memenuhi harapan, atau juga ketakutan terjadinya hal yang tidak diinginkan, membuat kita menjadi tidak percaya diri.
Teknik untuk lebih percaya diri yang dikemukakan para psikolog dan trainer pengemembangan diri sangat beragam. Yang luas digunakan antara lain:
- Afirmasi, mengulangi kalimat atau frasa yang dipercaya membuat kita lebih percaya diri. Teknik ini didasarkan argumen bahwa jika otak mendapatkan input yang positif secara konsisten, maka output pikiran kita juga akan positif.
Kelemahan: afirmasi dapat ditolak oleh pikiran kita sehingga kurang afektif. Misal: jika kita yakin bahwa kita bukanlah orang yang hebat dalam public speaking, maka perulangan afirmasi, seperti: "Aku merupakan orator terbaik" menjadi tidak efektif. - Berpikir positif, kita berfokus pada pikiran yang baik saja (positif) dan menyingkirkan pikiran buruk (negatif).
Kelemahan: Penilaian kita terhadap situasi bisa tidak seimbang, karena hanya berfokus pada hal positif. Teknik ini juga perlu mendapat latihan, karena orang yang biasa berpikir negatif secara otomatis (bawah sadar, auto pilot) harus mengubahnya menjadi berpikir positif secara otomatis. - Body language, dilakukan dengan mengubah bahasa tubuh, termasuk suara, mata, ekspresi wajah, dan gerakan tubuh. Caranya dengan meniru gerakan tubuh saat sedang percaya diri. Latihan bisa dilakukan dengan menirukan figur publik seperti negarawan, dan artis.
Teknik ini didasarkan pada argumen bahwa pikiran mempengaruhi tubuh dan tubuh juga mempengaruhi pikiran. Dengan membuat melakukan gerakan layaknya sedang percaya diri, maka pikiran kita juga akan terpengaruh. Teknik tidak hanya dapat meningkatkan kepercayaan diri namun juga dapat melatih kemampuan kita berkomunikasi non verbal.
Dualisme kepercayaan diri dan ketidakpercayaan diri merupakan sesuatu yang diciptakan oleh ego.
Ketika ego menilai kemampuan diri kita kurang dan bisa timbul masalah, maka kita menjadi tidak percaya diri. Apalagi jika kita belum pernah menghadapi masalah tersebut sebelumnya. Atau jika kita pernah menghadapi masalah yang sama, namun terjadi masalah, seperti kita dipermalukan.
Sedangkan jika ego menilai tidak ada masalah dengan kemampuan diri kita atau pernah menghadapi kasus yang sama dan ego menganggap berhasil, maka kita akan percaya diri.
Anjuran saya berkenaan dengan kepercayaan diri yaitu mengeliminasi keduanya: baik itu percaya diri dan maupun tidak percaya diri. Seperti ucapan Budha: Isi itu kosong, kosong itu isi.
Dengan masih dipertahankannya konsep kepercayan diri, maka setiap saat hidup kita juga dipengaruhi olehnya. Kepercayaan diri merupakan konsep yang digunakan untuk melindungi ego kita, berkaitan dengan non physical threat.
Jadi, langkah paling mudah untuk mengeliminasi konsep kepercayaan diri adalah dengan tidak melindungi ego lagi. Caranya dengan memaafkan diri kita sendiri dari segala hal yang mungkin terjadi, baik itu dicemooh, ditertawakan, ataupun dikecam orang lain. Sendainya terjadi, kenyataan harus diterima dan kita dapat belajar dari pengalaman tersebut dengan pikiran yang jernih.



Currently have 0 komentar: