PERSPEKTIF MASA DEPAN
Masa depan merupakan peristiwa yang terjadi di masa depan. Jadi, peristiwa tersebut belum terjadi. Dalam perspektif manusia, kejadian di masa depan adalah sekumpulan imajinasi yang dibayangkan akan terjadi nanti.
Jika tidak digunakan secara seimbang, masa depan dan masa lalu (past) dapat merusak masa kini (present). Sedangkan jika dilakukan secara berulang-ulang, ketidakseimbangan perspektif masa depan dan masa lalu dapat menurunkan kualitas hidup manusia. Karena hidup hanya terjadi saat ini di sini, bukan nanti, bukan juga kemarin.
IMAJINASI
Manusia mengenal masa depan karena kemampuannya menyimpan (merekam) kejadian yang sudah terjadi dan kemampuannya berimajinasi. Anda akan lebih memahami artikel ini jika sudah membaca artikel tentang "Perspektif Masa Lalu".
Berikut definisi imajinasi (imagination):
- ability to visualize: the ability to form images and ideas in the mind, especially of things never seen or experienced directly
creative part of mind: the part of the mind where ideas, thoughts, and images are formed
(Microsoft® Encarta® 2009). - Ability of th mind to create mental images which do not literally exist; creation of such mental images (Babylon Pro).
KETAKUTAN (AFRAID) DAN KEKHAWATIRAN (WORRY)
Selain menguntungkan, masa depan dapat menjadi beban. Ini terjadi karena 'kreativitas' kita sendiri dalam berimajinasi. Imajinasi tersebut menjadi bayangan-bayangan yang menakutkan dan membuat kita khawatir.
Jika sudah menjadi kebiasaan, ketakutan dan kekhawatiran akan muncul dalam pikiran secara otomatis. Mengubah kebiasaan ini tidak dapat dilakukan secara instan. Selain karena melibatkan alam bawah sadar, tindakan tersebut mungkin sudah berulang-ulang dilakukan dalam jangka waktu yang relatif lama.
Ketakutan dan kekhawatiran merupakan respon emosional yang terjadi karena penolakan terhadap sesuatu yang mungkin terjadi. Dalam tingkat yang ekstrim, ketakutan dapat menjadi phobia dan kekhawatiran dapat menjadi paranoid.
Ketakutan lebih berkaitan langsung dengan akibat dari suatu hasil. Sedangkan kekhawatiran lebih berkaitan langsung dengan penyebabnya. Jika seseorang mengalami rasa khawatir, biasanya berarti juga mengalami rasa takut. Misalnya:
- Seseorang yang berjalan sendirian di malam hari bisa mengalami rasa khawatir bertemu dengan preman. Dia takut diapa-apakan.
- Seseorang yang melakukan presentasi bisa khawatir ada poin yang terlewatkan. Dia takut presentasinya dianggap jelek dan tidak berhasil.
Ketakutan dan kekhawatiran terjadi sebagai akibat dari antisipasi dan ketidakyakinan terhadap hasil yang akan terjadi di masa depan. Uniknya, kekhawatiran dan ketakutan dapat membuat usaha yang dilakukan malah menjadi kurang efektif. Selain itu, sebagai emosi negatif, khawatir dan takut dalam dosis tinggi dan berulang-ulang diyakini dapat merusak sistem kesehatan.
"Melakukan usaha semaksimal mungkin dan menyerahkan hasilnya kepada Tuhan" merupakan cara mengatasi ketakutan dan kekhawatiran yang efektif.
Sedangkan dalam perspektif ego, kita tidak perlu takut kehilangan apapun karena pada dasarnya kita juga tidak memiliki apapun. Kepemilikan hanyalah ilusi ego.
What will be, will be.



Currently have 0 komentar: