PERSPEKTIF MASA LALU
02 November 2008
, Posted by Rachmad Hakim at 11:44
Masa lalu merupakan masa yang telah berlalu. Dalam perspektif manusia, masa lalu merupakan kumpulan kejadian-kejadian yang terekam menjadi memori.
Tidak semua kejadian yang berlalu dapat terekam di otak. Terdapat keterbatasan yang dimiliki kita sebagai manusia:
- Indera, manusia mendapatkan informasi secara langsung maupun tidak langsung memlalui indera. Jika penyebabnya saja tidak terdeteksi oleh indera, maka kejadian tidak mungkin dapat diketahui manusia.
Contoh: masa lalu bagi orang yang cacat, misalnya buta atau tuli, tentu sangat berbeda dengan orang normal. - Fokus, pikiran sadar manusia hanya mampu berfokus satu hal saja. Dengan demikian, apa yang menjadi fokus itulah yang bisa terekam dan kejadian lainnya tidak akan diproses otak kita.
Contoh: Banyak hal yang dapat kita perhatikan, namun hanya satu yang dapat menjadi perhatian. Misalnya melihat benda di sekitar, mendegarkan suara-suara, merasakan kursi yang diduduki, mendengarkan perkataan orang. Ketika satu hal menjadi fokus, maka hal lainnya akan dikesampingkan dan tidak akan diolah oleh otak. - Konteks, perspektif pikiran akan menentukan intepretasi kejadian.
Contoh: Naik bis dan duduk di sebelah orang lain adalah hal yang biasa. Namun jika orang tersebut adalah wanita yang menurut kita cantik, atau artis terkenal, atau pejabat, atau selingkuhan teman, tentu menjadi pengalaman yang lain.
Manusia dapat mengenal masa lalu, karena dalam diri manusia terdapat bagian otak yang menyimpan memori. Tanpa adanya fungsi memori, manusia tidak akan pernah mengetahui kembali masa lalunya.
Berikut adalah penjelasan mengenai memori:
- ability to retain knowledge: the ability of the mind or of a person or organism to retain learned information and knowledge of past events and experiences and to retrieve that information and knowledge
retained impression of event: the knowledge or impression that somebody retains of a person, event, period, or subject (Microsoft® Encarta® 2009) - saved mental collection (Babylon Pro)
- Mental image, berupa gambaran kejadian. Lebih luasnya tidak hanya ingatan visual, namun ingatan berdasarkan indra lainnya (suara, bau, perabaan, rasa, sakit, ngilu, dll).
- Urutan waktu (kronologi) bagaimana terjadinya suatu peristiwa.
- Berkaitan dengan emosi, yaitu perasaan kita terhadap kejadian atau yang dirasakan pada saat itu.
- Informasi verbal dan non verbal berkaitan dengan persepsi kita terhadap perkataan dan maksud/tindakan pelaku lain dalam peristiwa tersebut
- Konteks, berupa posisi kita dalam kaitannya dengan peristiwa tersebut.
- Keyakinan tentang arti dari peristiwa tersebut terhadap diri kita.
Masa lalu tidak terekam dengan kualitas yang sama. Kejadian tempo hari mungkin sudah banyak yang kita lupakan, namun kejadian yang terjadi bertahun-tahun yang lalu bisa jadi masih segar dalam ingatan kita. Dengan kata lain, kejadian lama tersebut mengalami penguatan memori.
Penguatan memori akan terjadi secara otomatis jika terdapat intensitas emosi yang begitu kuatnya di masa lalu, entah itu marah, kecewa, terancam, takut, bangga, bingung, merasa disakiti orang, sedih, kaget, takjub, atau emosi lainnya. Memori yang mengalami penguatan tidak hanya tersimpan cukup detail, namun dapat muncul lagi secara berulang-ulang.
MASA LALU SEBAGAI BEBAN
Terdapat kisah menarik dalam Zen.
Dua orang biksu sedang melakukan pengembaraan. Ketika tiba di tepi sungai, dua biksu tersebut melihat seorang wanita muda yang kebingungan ingin menyebrang sungai namun tidak bisa. Tanpa banyak basa basi, salah satu biksu memberi isyarat lalu menggendong wanita tersebut. Meski biksu satunya tidak setuju, namun dia hanya diam saja dan memendamnya dalam hati. Akhirnya mereka berhasil tiba di tepi sungai dan sang wanita pun berterima kasih banyak. Kedua biksupun melanjutkan pengembaraanya. Selama perjalanan, biksu yang tidak setuju tersebut masih penasaran memikirkan peristiwa tersebut. Setelah beberapa jam, akhirnya sang biksu tidak kuat menahan rasa penasarannya dan bertanya pada temannya: "Bukankah sebagai biksu kita tidak boleh memegang wanita? Mengapa engkau menggendong wanita di sungai tadi?". Biksu satunya pun menimpali: "Teman, aku sudah melepaskan wanita tersebut saat kita di seberang sungai, mengapa engkau masih membawanya ke sini? "
Tanpa disadari, pikiran kita sering mengarahkan perhatian kita kepada hal-hal yang tidak bermanfaat. Caranya dengan mengingatkan kembali kejadian di masa lalu di mana kita menjadi korban, entah disakiti orang yang penting bagi diri kita, dipermalukan di depan orang banyak, dll. Akibatnya, kita akan mengalami dampak yang mirip seperti kita sedang mengalami kejadian tersebut. Misalnya kita menjadi sedih, malu, atau menyesal. Jika hal tersebut terjadi, maka masa lalu telah menjadi beban dan akan menghantui di sepanjang sisa hidup kita.
MENETRALISIR MASA LALU
Memori yang sudah melekat sangat sulit untuk dilupakan. Sebenarnya memang tidak perlu dilupakan, hanya perlu dilakukan reentepretasi ulang. Teknik-teknik untuk menetralisir masa lalu sudah banyak. Mulai dari hypnotherapy, konseling psikoanalisis, Neuro Linguistic Programming (NLP) dll.
Cara praktis yang sering ditemukan dalam buku self development terangkum sebagai berikut:
- Mengakui bahwa peristiwa memang terjadi di masa lalu tanpa menolaknya ataupun berusahamenghindarinya. Kejadian tersebut sudah terjadi.
- Mengakui akibat dari peristiwa tersebut terhadap diri kita di saat itu, terutama aspek emosional.
- Memaafkan diri sendiri bahwa kita tidak berdaya atau mempunyai kemampuan cukup untuk mencegah ataumenghindari peristiwa tersebut.
- Memaafkan orang lain yang telah berbuat kesalahan tersebut tanpa mengesampingkan aspek hukum, jikaada pelanggaran hukum.
- Menerapkan ketidakterklibatan terhadap peristiwa di masa lalu
- Membuat perspektif baru tentang masa lalu
- Mengacak struktur memori seperti dengan manipulasi mental image
MASA LALU DAN EGO
Dari perspektif ego, masa lalu dapat menjadi beban terutama karena diri kita belum siap mengalami peristiwa tersebut. Diri sejati tidak akan pernah terluka secara emosional, egolah yang tidak terima atau menolak kejadian yang menimpa diri kita.
Jika masih terbebani dengan masa lalu, berarti ego dalam diri kita masih kuat. Dalam beberapa kasus, pikiran sering kembali ke masa lalu karena masalah tersebut dianggap belum selesai dan masih dicari solusinya. Jika demikian yang terjadi, langkah terbaik adalah memaafkan diri sendiri.
Tidak perlu penasaran dengan motif dari perkataan/tindakan orang lain. Tidak perlu juga memaafkan orang lain ataupun tidak memaafkan orang lain. Seperti jika tangan kita terbakar oleh api. Kita tidak perlu memaafkan api, juga tidak perlu menolak untuk memberi maaf kepada api. Yang perlu dilakukan adalah memaafkan diri sendiri karena kita ceroboh.
Jadikan beban masa lalu sebagai titik balik untuk lebih menetralisir ego. Selain itu, tekankan pada diri kita bahwa orang lain melakukan hal tersebut bukan karena kita namun karena alasan mereka sendiri. Dengan kata lain, tindakan tersebut diakibatkan ego mereka sendiri.



Currently have 0 komentar: