Latest News

PERSPEKTIF TINDAKAN DALAM HIDUP

24 November 2008 , Posted by Rachmad Hakim at 09:00

Dalam kehidupan modern, manusia cenderung mengkategorikan tindakannya berdasar waktu dan tujuan. Berikut contoh pengkategorian tindakan dalam satu hari:

  • Tidur. <=8 jam
  • Bekerja. ± 8 jam
  • Mengurus diri sendiri, keluarga (anak & istri), dan bersosialisasi. >8 jam
Cara lain yang lebih umum, kegiatan dikotak-kotakkan berdasarkan maksud tindakan tersebut. Berikut contohnya:
  • mandi, makan, berangkat kerja, bekerja, pulang kerja, mandi, nonton tv, bersosialisasi, main game, tidur.
  • mandi, makan, berangkat sekolah, pulang sekolah, makan, main, nonton tv, mandi, makan, diskusi keluarga, belajar, mengerjakan PR, tidur.
Tindakan di atas dilakukan melalui serentetan tindakan-tindakan kecil yang menjadi pembentuknya:
  • Makan: berjalan, ambil piring, ambil sendok, ambil nasi, duduk, ambil lauk-pauk, makan.
  • Berangkat kerja: Siapkan tas dan peralatan yang harus dibawa, pakai sepatu dan kaos kaki, siapkan motor, naik motor, lewati jalan A, jalan B, sampai di kantor
Meskipun tidak pernah diajarkan secara langsung, hampir semua manusia cenderung mengkotak-kotakkan hidup menjadi tindakan-tindakan yang harus dilakukannya. Proses tersebut tidak hanya terjadi dalam pikiran sadar, namun juga melalui mekanisme bawah jika sudah menjadi rutinitas.
Pengkotakan tindakan-tindakan dapat membantu kita tetap terorganisir dan fokus di tengah-tengah hiruk pikuknya kehidupan modern. Namun di sisi lain, pengkotakan tersebut dapat membuat hidup menjadi hambar. Kita seakan-akan hanya menjadi mesin robot penggerak berlangsungnya kehidupan modern. Manusia semakin rentan mengalami alienasi dan kehilangan dirinya sendiri.
Dilihat dalam persepsi tersebut, hidup manusia dapat tereduksi menjadi sekumpulan kegiatan yang harus dilakukannya. Dengan kata lain, hidup adalah kumpulan tindakan seperti tidur, makan, bekerja, mandi, baca koran, nonton tv, futsal, main game, dll.

EMBRACE THE MOMENT
Selama melakukan tindakan, pikiran cenderung melupakan saat ini dan hanya fokus ke arah tujuan yang ingin diraih. Misalnya:
  • Menuangkan air, teh, gula, dan air dilakukan agar kita dapat minum teh.
  • Berangkat kerja mempunyai tujuan agar sampai di tempat kerja.
Dari contoh di atas, perjalanan dari rumah ke tempat kerja hanya dilakukan dengan maksud sampai di tempat kerja. Akibatnya, dalam perspektif tersebut, waktu yang kita lalui dalam perjalanan, seperti menunggu bus misalnya, tidak akan dianggap sebagai poin penting yang berharga dibandingkan dengan tujuan sampai di tempat kerja itu sendiri.
Menyadari bahwa hidup hanya terjadi saat ini, maka setiap momen dalam kehidupan harus dihargai. Sama berharganya dengan tujuan-tujuan yang kita inginkan. Pengkotakan hidup menjadi tindakan-tindakan harus dilakukan tanpa melupakan saat ini. Karena hidup hanya terjadi pada saat ini.
Jika kita hanya menghargai tujuan dari tindakan kita dan melupakan momen kehidupan, maka kualitas hidup menjadi berkurang. Hidup telah tereduksi menjadi serentetan aktivitas untuk meraih tujuan-tujuan yang kita inginkan. Tujuan seakan menjadi lebih penting dari hidup itu sendiri. Waktu pun menjadi terasa jauh lebih cepat berlalu.
Kebahagiaan tidak harus dirayakan hanya ketika tujuan telah berhasil dicapai. Dalam setiap saat momennya, hidup harus dihormati. Dalam setiap tarikan nafas, setiap langkah kaki, setiap suara yang memasuki telinga kita, setiap cahaya yang masuk ke dalam mata kita, semua memiliki keindahan tersendiri. Jangan sampai kita silau dengan tujuan sehingga membutakan kita sendiri sehingga tidak lagi mampu melihat setiap keindahan-keindahan tersebut.
Embrace the moment, embrace the life

Currently have 0 komentar: