LOGIKA DAN BAHASA
03 Desember 2008
, Posted by Rachmad Hakim at 19:11
Manusia menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. Bahasa mengandung informasi yang mempunyai arti tertentu. Bahasa tidak hanya digunakan untuk berkomunikasi dengan orang lain, tetapi juga kepada diri sendiri (self talk) dan juga kepada Pencipta, bagi yang percaya.
Logika merupakan prinsip berpikir yang dapat digunakan untuk menentukan benar salahnya sesuatu. Logika tidak melulu digunakan pada Matematika, teknik, maupun sains. Dalam bahasa sehari-haripun kita dituntut untuk berbahasa dengan logika. Contoh logis/tidak logis dalam satu komunikasi:
- Pertanyaan: Siapakah nama Anda?
- Jawaban tidak logis: Saya tinggal di Jakarta
- Jawaban logis: Nama saya Stifla
Logika dalam bahasa diperlukan untuk membuat argumen yang logis. Argumen tersusun dari premis-premis. Dalam kaitannya dengan bahasa, premis muncul dalam kalimat atau juga frase. Logika berguna untuk menjembatani antara satu premis dengan premis yang lain, serta membentuk kesimpulan.
- Premis1: Semua manusia pasti mati.
- Premis2: Kita adalah manusia.
- Kesimpulan: Kita pasti mati.
Beberapa kata dalam bahasa juga sudah mengandung logika itu sendiri.
- Jika…, maka…. (sebab-akibat)
- Jika dan hanya jika
- Dan, atau, tidak
- Setiap, semua, tidak ada
- Kecuali
- Meskipun
- Tetapi
- Logika berkaitan dengan premis. Jika premis sudah salah, maka kesimpulan yang logis bisa salah.
- Logika tidak dapat menentukan langsung apakah suatu premis benar atau salah. Namun, logika dapat membantu berpikir kritis untuk menguji tingkat kebenaran suatu premis
- Premis mempunyai kaitan erat dengan persepsi. Jika persepsi sudah tidak tepat, maka kesimpulan logis juga tidak tepat
Secara tidak sengaja, bawah sadar sering berlogika sendiri sehingga membentuk keyakinan-keyakinan yang dapat mempengaruhi persepi dan pikiran sadar.
- Si A, B, C, D, E, dll adalah orang suku Jawa.
- Si A, B, C, D, E, dll katro.
- Kesimpulan: Semua orang Jawa katro, atau paling tidak sedikit katro, atau paling tidak mempunyai lingkungan yang katro. Pokoknya ada katronya.
- Warning: bisa salah karena kesimpulan diambil dari generalisasi. Istilah katro juga tidak dapat dijelaskan secara tegas
- Orang bisa berbuat apa saja demi uang
- Kesimpulan: Uang adalah akar dari kejahatan
- Warning: kesimpulan diambil dengan menggunakan premis bahwa terdapat relasi sebab-akibat antara uang dan perbuatan. Kesimpulan bisa salah jika tidak ada sebab-akibat antara uang dan perbuatan. Atau bisa jadi karena hal lain yang berhubungan dengan uang namun tidak secara langsung. Misalnya: Serakah terhadap uang adalah akar kejahatan, Kekurangan uang (kemiskinan) adalah akar kejahatan.
- Orang kaya banyak godaannya.
- Aku tidak ingin banyak godaan dalam hidup.
- Keputusan: Aku tidak ingin kaya, apalagi terlalu kaya.
- Warning: Kesimpulan dan premis sudah benar. Namun, persepsi bisa jadi tidak tepat, misal: orang miskin juga banyak godaannya.
- Aku grogi jika berdekatan wanita yang cantik
- Laura adalah wanita cantik menurutku
- Kesimpulan: Aku pasti grogi berada dekat dengan Laura
- Warning: Kesimpulan dan premis sudah benar. Namun, persepsi bisa jadi tidak tepat sehingga keyakinan di atas tidak menguntungkan.
- Persaingan dalam penjualan sangat tinggi. Banyak pedagang yang menipu pembeli dengan mengurangi berat timbangan serta mencampur komoditas dengan jenis yang lebih murah
- Kesimpulan: Pedagang hanya mempunyai dua pilihan: menipu pelanggan atau bangkrut.
- Warning: mungkin bisa dicari alternatif selain kedua pilihan di atas.
Siapa yang berlogika (dalam agama), berarti dia kafir.Mari kita telaah kalimat terkenal di atas berdasarkan logika.
- Kalimat di atas telah menggunakan bahasa logika, berkaitan dengan jika, maka. Artinya: Jika seseorang berlogika dalam agama, maka orang tersebut kafir.
- Kalimat di atas berkaitan dengan agama. Dengan kata lain, orang yang melontarkan kalimat di atas telah "berlogika dalam agama".
- Karena orang yang berlogika dalam agama kafir, maka yang melontarkan kalimat di atas telah kafir berdasarkan pemikiran orang itu sendiri. (Kafir menurut definisi dari orang yang melontarkan kalimat tersebut).
- Jika orang yang melontarkan tersebut tidak kafir, berarti kalimat di atas salah.



Currently have 0 komentar: